Posted by: sunanlimolas | February 27, 2008

Maafkan bapak nak..!!

Saya seorang lelaki yang hidup di sebuah kampung yang masih tergolong desa tertinggal. Pekerjaan saya selalu berganti-ganti, terkadang menjadi buruh tani, tukang bangunan atau bahkan hanya sekedar mencari rumput untuk kemudian dijual kepada orang yang mempunyai sapi ternak. Dua puluh tahun yang lalu saya menikah dengan seorang perempuan, sebut saja namanya Ratna. Dia berasal dari kampung tetangga, kurang lebih dua kilometer ke arah barat dari kampung saya. Saya menikahi Ratna karena dia seorang penyabar dan rendah hati, dan saya memilihnya untuk menjadi pendamping hidup saya, agar ia menutupi atau menambal kekurangan saya yang dikenal dengan orang yang cepat naik darah atau pemarah.

Memasuki tahun pertama dari usia pernikahan, kami sama-sama merasakan kebahagiaan rumah tangga yang mendalam. Meskipun hidup dengan ala kadarnya, tetapi Ratna tidak pernah mengeluh apalagi protes dengan keadaan saya yang serba kekurangan. Terus terang saja, untuk menikahi Ratna saya hanya bermodalkan cinta saya pada dia (untuk tidak mengatakan bermodal dhengkul). Pada bulan ketiga di tahun kedua pernikahan kami, Ratna melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Lalu kami memberinya nama Prapto, lengkapnya Suprapto. Semakin lama semakin tampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang dibanding anak-anak seusianya. Hal inilah yang membuat saya ingin memberikannya kepada orang lain untuk dijadikan anak asuh atau bahkan pelayan. Tapi Ratna mencegah niat buruk saya itu.

Tiga tahun setelah Prapto dilahirkan, Ratnapun melahirkan anak kedua kami, dan kali ini yang terlahir adalah bayi perempuan yang cantik, mungil dan lucu. Dengan kehadiran anak perempuan kami ini, kehidupan keluarga kami terasa sangat sempurna. Dan kami memberinya nama Wulandari. Saya sangat menyayangi Wulan, demikian juga Ratna. Seringkali kami mengajaknya pergi jalan-jalan ke kota dan membelikannya pakaian anak-anak dan boneka-boneka lucu kesukaannya. Dan beginilah kami mencurahkan kasih sayang kami kepada wulandari dengan sangat berlebihan.

Namun tidak demikian halnya dengan Prapto. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Dan ia tidak memiliki mainan apapun kecuali sebuah mobil-mobilan dari kayu yang dulu pernah saya buatkan untuk dia. Ratna berniat membelikannya satu stel pakaian baru, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Ratna selalu menuruti perkataan saya, sehingga iapun tidak jadi membelikan pakaian itu untuk prapto.

Saat Wulandari berusia 2 tahun, Ratna meninggal dunia karena penyakit liver yang dideritanya. Waktu itu Prapto sudah berusia 5 tahun, namun tingkah lakunya masih seperti anak berumur dua tahun. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Kalau kebanyakan orang mengenal gali lubang tutup lubang, sedangkan yang saya lakukan adalah gali lubang tapi gak ditutup-tutup.

Akhirnya saya mengambil sebuah keputusan tanpa melalui proses berfikir dengan jernih, dan saya sadari betul bahwa tindakan itu akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Wulandari. Prapto yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya pergi ke kota Solo setelah menjual segala perabotan rumah tangga yang tersisa untuk membayar hutang.

Nasib baik ternyata masih bersama saya, di Solo saya menikah kembali dengan seorang janda kembang yang bernama Wati. Tingkat kesabaran Wati tidak jauh beda dengan Ratna. Mereka berdua banyak memiliki kesamaan dalam sifat maupun perilaku, hanya satu yang membuat mereka berbeda, nasib. Ratna terlahir di desa dengan segala keterbelakangan dan kekurangannya, sedangkan Wati dilahirkan di Kota dengan segala kecukupannya.

Wati mempunyai sebuah toko mebel peninggalan suaminya, dan saya bekerja di toko itu bersama-sama dengan wati dan 15 orang karyawan lainnya. Kehidupan saya sekarang jauh lebih layak dibandingkan dengan kehidupan saya sewaktu di kampung. Singkat cerita, usia pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Dan berkat Wati, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Wulandari kini berumur 7 tahun dan kami menyekolahkan dia di sebuah Sekolah Dasar yang tidak begitu jauh dari tempat tinggal kami.

Sepuluh tahun sudah saya meninggalkan kampung halaman saya.

Tidak ada lagi yang ingat tentang Prapto dan tidak ada lagi yang berusaha mengingatnya.

Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak kecil dengan baju yang sangat lusuh. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum ia berkata, om, om kenal bapak caya gak? Caya kangen cekali dengan bapak caya

Setelah berkata demikian ia kemudian beranjak pergi, namun saya menahannya, “Tunggu…, sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?”

“Nama caya plapto, om.”

“Prapto… Ya Tuhan! Kau benar-benar Prapto?”

Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, menyesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu. Setiap berangkat ke tempat kerja, secara tiba-tiba bayangan Prapto melintas di pikiran saya. Ya Prapto, bapak akan menjemput kamu nak,,…

Hari berganti hari, bayangan Prapto terus mengikuti kemana saya melangkah, hingga suatu siang saya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman saya dengan membawa Wati dan Wulandari. Sesampainya di kampung, saya memarkir mobil kijang biru saya di samping sebuah gubuk, dan Wati dengan pandangan heran menatap saya dari samping seraya bertanya” sebenarnya apa yang terjadi mas?

Aku hanya bisa menjawab dalam hati “Wati, kau pasti akan membenciku andai aku ceritakan tentang masa laluku pada kamu”

Tapi demi menjaga rasa saling percaya dan pengertian yang kami pupuk sejak pernikahan kami, dengan terisak-isak sayapun menceritakan juga semuanya kepada Wati. Dan ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Dia telah memberikan istri yang begitu baik dan penuh pengertian.

Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Wati dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya. Dan Prapto…??

Saya meninggalkan ia di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali… Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Prapto sehari-harinya…

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu… Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Tidak lama kemudian saya dan Wati mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget melihat bayangannya di kaca spion, karena memang malam itu gelap sekali. Hingga kemudian, terlihatlah wajah orang itu yang demikian lusuh dan kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

“Heii…! Siapa kamu?! “Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan anak kecil yang bernama Prapto? dulu ia tinggal di sini.”Ia menjawab, “Kalau kamu bapaknya, kamu sungguh terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu pergi meninggalkannya, Prapto terus menunggu bapaknya dan memanggil, bapak…. bapak….’ dan karena kasihan, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu prapto menulis sesuatu diatas secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”

Saya pun membaca tulisan di kertas itu…

“bapak, kenapa bapak tidak pernah kembali lagi kesini??, bapak marah ya sama prapto??, maafkan prapto ya pak, kalau bapak kembali kesini bapak harus janji untuk tidak pergi jauh lagi, biarlah prapto yang pergi dari sini..maafkan prapto pak.”

Airmatapun mengucur begitu deras, dan saya hanya bisa memohon kepada ibu itu untuk menunjukkan dimana Prapto sekarang “Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”

Wati memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

“Pak, semua sudah terlambat. Sehari sebelum bapak datang, Prapto telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggu bapaknya ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila bapaknya datang, bapaknya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana… Ia hanya berharap dapat melihat bapaknya dari belakang gubuk ini..”

“Ya Allah ampunilah hamba-Mu yang penuh dosa ini, maafkan bapak nak,,”

Teruntuk seseorang yang kini tinggal di kompleks hatiku  lelaki memang selalu menuntut lebih banyak dari apa yang ia punya, tapi wanita selalu bisa memberikan yang lebih banyak dari apa yang ia punya (kangenku)


Responses

  1. yah, selalu butuh teguran untuk kita bisa ‘eling’ ..

  2. ketoke wis komen kok ga muncul.. di pangan sepam po ya.. :D

  3. maturnuwun massayur, biasane lek wong anyar nunggu moderasi dhisik, ngapunten…

  4. hiks…
    sedih banget….
    (udah ah mau nangis dulu)

  5. Penyesalan selalu datang terlambat.
    Makasih buat sharingnya pak, mengingatkan kita untuk selalu eling!
    Semoga Prapto bahagia di sisiNYA !

  6. Hiks..Hiks…
    Jahat bgt siee
    yg nuliz jg jahat
    bkin ku sedih


Leave a response

Your response:

Categories