“manusia itu harus berkembangbiak” demikian ungkap Jaja Miharja dalam film Get married ketika menginginkan anak putri satu-satunya yang bernama Mae untuk segera menikah. Dimana dengan pernikahan ini kedua orang tua bisa lebih cepat terbebas dari tanggung jawab mereka untuk merawat, mendidik dan menafkahi anak putrinya tersebut. Manusia memang harus beranak dan berkembang biak, dan dari hasil perkembangbiakan tersebut diharapkan riwayat keluarga akan terus berlanjut dan dilestarikan.
Pada tanggal duapuluh dua bulan dua duapuluh sekian tahun yang lalu\22-02-sembilan ratus delapanpuluhan (sengaja tahun kelahiran tidak disebutkan karena dianggap merugikan dan mengurangi nilai jual sang anak J) telah terlahir seorang anak manusia yang diberi nama Sunan Autad Sarjana, hasil dari proses perkembangbiakan sepasang kekasih yang bernama Pak Hart dan Bu Millati.
Sunan, berasal dari bahasa Arab, merupakan bentuk jamak dari kata tunggal sunnah, dan yang dimaksud dengan sunnah disini tidak lain adalah sunnah Rasulullah Saw. Autad, juga berasal dari bahasa Arab, merupakan bentuk jamak dari kata watadun yang artinya pasak atau pondasi. Kata autad disebutkan dalam al-Qur’an (seingatku sih cuman sekali) yaitu pada ayat “wa fir’auna dzil autad”
Sarjana, sebenarnya dari kata sarjono, nama kakek atau datuk yang kelima dari sang bayi atau dalam bahasa jawa disebut udheg-udheg, tapi karena menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan teknologi, terpaksa dirubah menjadi sarjana. “ben gak ndeso-ndeso nemen” ungkap sang ibu.
Dari nama ini kedua orangtua mengharapkan agar sang anak membekali dirinya dengan sunnah Rasul dan menjadikan sunnah tersebut sebagai pondasi sebelum akhirnya menjalani kehidupan yang penuh dengan dilemma dan problematika ini. Dan berangkat dari harapan inilah kedua orangtuanya berkeinginan keras agar ia melanjutkan pendidikannya disalah satu pondok pesantren di Jawa Timur. Yah, ini semacam pemaksaan, karena sang anak tidak diberi kebebasan untuk memilih di sekolah mana ia akan melanjutkan studinya setelah menyelesaikan pendidikan SLTP-nya, gimana mau milih?, lha wong bicara sama ortunya soal minatnya ke bidang Matematika aja langsung dihajar habis-habisan (dihajar secara lisan maksudnya J)
Setelah sekian tahun menjalani kehidupan dan pendidikannya di pondok pesantren tersebut dengan penuh liku-liku dan laki-laki (kok laki-laki?, pikir aja ndiri ah) akhirnya ia sekarang melanjutkan pendidikan S1-nya di salahsatu universitas di Mesir, alhamdulillah.
Tapi yang aneh, setiap ulangtahunnya dari tahun kelahiran sampe sekarang belum ada seorangpun yang mengucapkan “selamat ulang tahun sayang” kecuali dirinya sendiri. Yang ada hanya ucapan “selamat ulang tahun kawan, sahabat, pren, mas, dik, paklik”. Dan perlu diketahui, hal ini tidak menunjukkan bahwa anak tersebut tidak laku, tapi ia masih dalam proses atau tahapan menunggu tanpa mencari ( maksud loh?). Proses inilah yang memaksanya untuk mengucapkan”met ultah sayang” pada dirinya sendiri, karena hanya ia yang menyanyangi dirinya, dan ia akan terus mengucapkan kalimat tersebut di setiap momen hari kelahirannya sampai nanti ketika akhirnya ia secara terpaksa atau dipaksa bertemu oranglain dengan jenis kelamin wanita yang menyayanginya. (moga aja gak lama lagi)
teruntuk diriku sendiri “Met ultah yang kesekian kalinya, moga sisa umur yang diberikan Allah bermanfaat dan membawa berkah, amin”
mkanya don’t forget ma ultah ade’nya…
By: youtha on August 21, 2008
at 8:39 am