Masih terniang dalam ingatanku, ketika aku berumur kurang lebih 8 tahun, aku pernah bertanya pada seorang guru Pendidikan Agama di SDku “kenapa sih pak kita harus sholat, puasa dan membayar zakat?.” Layaknya seorang yang tahu benar akan agama beliau menjawab: “agar kalian masuk Surga dan jauh dari api neraka”. Yah, jawaban yang singkat itulah yang mendorongku untuk selalu rajin beribadah dan beramal sholeh. Bahkan, setiap berdoa akupun gak pernah lupa untuk selalu melafadzkan “ Allahumma inna nas’aluka ridhaaka wal jannata wa na’uudzubika min sakhatika wannaar”. Ya Allah aku memohon keridhaan dan surga-Mu dan aku berlindung dari murka dan siksa neraka-Mu.
Hari berganti hari seiring bulan mengelilingi bumi (opo iki maksude?), dan waktupun terus berjalan, akupun sadar bahwa aku tidak hanya sendirian, disana ada ribuan bahkan jutaan orang yang sama denganku dalam hal ini; mengharapkan surga dan menjauhi api neraka.
Cobalah kau sapa orang yang sedang berdiam diri di masjid dengan tasbih melingkar di jari-jari tangannya itu, cobalah kau dekati bapak tua yang selalu memangku al-Quran dengan mulutnya yang selalu bergerak membuka dan menutup itu, sapalah pemuda berdasi yang rela menyisihkan setengah kekayaannya untuk donasi yayasan yatim piatu itu, tanyakan kepada mereka, kenapa mereka mau melakukan itu semua dan apa yang menjadi tujuan mereka?.
Yah, surga (keindahan dari segala keindahan, tidak satu matapun yang pernah melihat keindahan itu, dan tidak satu telingapun yang pernah mendengar tentang keindahan sepertinya) dengan taman-tamannya yang indah dan bidadarinya yang cantik, dimana setiap penduduknya tidak akan pernah kekurangan sesuatu apapun, seolah-olah menjadi tujuan akhir dan tempat tinggal terindah (real estate) untuk semua umat manusia. Disamping itu, neraka dengan apinya yang berkobar-kobar seakan-akan menjadi tempat yang paling tidak nyaman untuk ditinggali, hingga semua orang memohon agar ia tidak ditempatkan di dalamnya setelah hari kebangkitan nanti. Hal inilah yang membuat semua orang berusaha untuk mencari tiket masuk surga, bahkan banyak diantara mereka yang menggunakan seluruh waktunya untuk beribadah siang dan malam agar bisa mendapatkan KTP surga, menetap dan tinggal didalamnya selaku penduduk.
Adalah Syahdan, seorang sufi masyhur itu berjalan menyusuri jantung kota Bagdad yang hiruk-pikuk. Ia menjinjing seember air dan sebuah obor. Ketika ditanya hendak kemana, ia menjawab enteng: “Aku akan membakar surga dengan oborku ini dan memadamkan api neraka dengan air!”
Beliau dan juga Rabi’ah al-Adawiyah resah dengan tingkat ketulusan manusia, khususnya umat islam dalam beribadah dan menjalankan syari’atnya. Beribadah hanya untuk mendapatkan surga dan terjauh dari api neraka. Singkat kata, manusia beribadah hanya dengan iming-iming tertentu. Beribadah dengan mental budak dan pedagang, selalu ingin mendapatkan untung dan takut akan kerugian. Manusia telah lupa dengan Sang Maha Agung yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya.
Keresahan dan ambisi beliau ini tentunya sangat kontras sekali dengan para mujahid bom bunuh diri dengan jihad versi mereka,yang mengorbankan nyawa-nyawa tak bersalah hanya untuk menggapai surga. What kind of jihad like this bro?
Hal inilah yang membuat Rabi’ah tergerak untuk membuang jauh iming-iming itu seraya bersenandung “ Ya Allah, jika aku menyembah-Mu hanya karena ingin mendapatkan surga, maka jauhkanlah aku darinya, dan jika aku menyembah-Mu karena takut akan api neraka maka jatuhkanlah aku kedalamnya”
Wahai kawan (ceile akrab banget), “benarkah, jika surga dan neraka tak pernah ada kita masih mau bersujud dan menyembah-Nya?.”mari kita sama-sama memperbaiki niat kita untuk beribadah lillahi ta’ala bukan lil jannah.
Wallahu a’lam bisshawab.
jadi kayak nyanyiannya om chrisye…jika surga dan neraka tak pernah ada….. but by the way busway…moga kita semua tulus lillah…
By: aci on November 25, 2007
at 4:41 pm
almarhum om crisye duet ma dewa khan? makasih dah mampir neng,,
By: sunan&cleopatra on November 26, 2007
at 4:23 pm
tapi, beribadah untuk mendapat syurga jangan sampai dilarang..ini potret standar umum manusia bumi. Dan mungkin (juga) rabiah walau berkata demikian, ia masih sempat (melirik) syurganya..semoga kita bisa ikhlas. amin.
By: mubayok on November 27, 2007
at 7:42 pm
hmm… sul, widget flick-nya itu loh. mbok yao dibuang aja… gak enak ndelok`e…
By: emnoer on November 28, 2007
at 5:24 am
suwun om ayok, dan surgapun terkadang masih menjadi motivasi saya untuk beribadah, jadi sama-samalah kita berusaha untuk ikhlas, oke?
By: sunanlimolas on November 28, 2007
at 8:47 pm
Barang siapa yg menanam rumput maka rumput yg dia panen tp bagi siapapun yg menanam padi maka tdk hnya padi tp jg rumput ia dpt..
By: youtha on August 21, 2008
at 8:50 am